hamil kok … ?

Pernah dengar nyinyiran :

“hamil kok perutnya kecil?”

“Hamil kok ga gendut sih?”

“Oh kamu lagi hamil, kirain Cuma buncit aja kebanyakan makan”

Iyes, saya hamil dan terlihat seperti tidak hamil malah lebih cenderung terlihat seperti orang buncit. Ada yang bilang seperti orang busung lapar. Elus-elus dada setiap kali ada nyinyiran seperti itu.

Aku memang hamil dengan kondisi seperti itu, badan yang tidak gemuk dan perut yang Cuma terlihat seperti buncit. Tapi percayalah di dalam perut aku ini, ada mahluk kecil mungil yang luar biasa sedang hidup dan tumbuh. Dan dia butuh ibunya untuk senang agar dia juga ikut senang. Perutku terlihat membesar ketika menginjak usia kehamilan 8 bulan. Padahal selama hamil aku naik 12kg (dari 50kg menjadi 62kg dan doyan banget makan). tapi mungkin karena postur tubuh ku yang tinggi dan sewaktu gadis tergolong kurus makanya pas hamil terlihat tidak seperti ibu hamil. Perubahan tubuh yang signifikan hanya pada paha yang terasa semakin banyak timbunan lemaknya. Bagian tubuh yang lain tidak terlihat perbedaannya. Pakaian pun masih menggunakan pakaian sebelum hamil, mulai dari celana kerja, kemeja kerja, kaos, jeans, CD dan bra. Sedih memang denger nyinyiran itu apalagi kalau keluar dari seorang wanita juga. Miris rasanya. Pernah suatu saat ada seorang ibu nanya

Ibu2 : “ Mba kamu hamil?”

Aku : “ Iya bu” sambil senyum sopan. Ini ditanya pas hamil 7 bulan (kalau kata mamaku, perut aku kaya ukuran hamil 4 bulan ibu hamil pada umumnya)

Ibu2 : “Kok ga keliatan ya? Kecil banget loh” ah hati mulai ga enak.

Aku : “Iya bu, emang kecil”

Ibu2 : “coba periksain ke dokter. Jangan-jangan kenapa-kenapa lagi sama bayinya. Abisnya kecil banget buat ukuran 7bulan”

Aku Cuma senyum setengah hati sambil ngelongos pergi. Pulang kantor ketemu suami langsung nangis. Sedih banget L . nyinyiran-nyinyiran itu datang sejak usia kehamilanku 5 bulan, pas orang-orang sekitar tau aku hamil. Diragukan kehamilanku karena kecil dan tidak terlihat seperti orang hamil, perut membesar, badan jadi gemuk dan mual-mual. Tapi itu lah kehamilanku, aku tidak terlihat gemuk dan mengalami morning sickness yang berarti. Bayi di dalam perutku allhamdulilah baik-baik saja dan termasuk normal walaupun dengan berat badan yang pas-pasan tapi tidak ada yang kurang, semuanya sehat. Saking seringnya dapet nyinyiran kaya gitu, sekalinya ada orang yang bilang “kok hamilnya ga keliatan ya. Kecil” aku langsung jawab “kenapa? Kaya orang busung lapar? Atau kaya orang buncit?” atau “Kenapa?keren ya gua, udah hamil gede tapi masih langsing” (yang ini paling suka, diajarin suami, bikin orang yang nanya jadi keki sendiri) lalu pergi ninggalin tuh orang tanpa peduli reaksi mereka. Padahal dalam hati istighfar berkali-kali dan berdoa supaya bayiku sehat dan lengkap semuanya. Bukan hanya kata-kata pedas seperti itu, sikap lingkungan yang kurang ramah dengan ibu hamil yang seperti aku pun pernah aku alami. Ketika naik busway tidak ada seorangpun yang menawari aku duduk termasuk kondekturnya ini sempat berkali-kali kejadian mulai usia kehamilan 3 bulan samapi 6 bulan. Lebih parah lagi pas mau keluar dari buswaynya orang-orang tidak memberikan jalan yang cukup untuk ku. Susah payah aku melindungi perut aku agar tidak tertekan. Akhirnya aku teriak minta tolong sama kondektur buswaynya, bilang kalo aku lagi hamil barulah orang-orang berhenti mendorong dan membuat sedikit ruang untuk aku keluar dari busway. Mungkin yang paling sedih ketika aku dan salah satu ibu hamil lainnya dari kantor sebelah kantor ku sama-sama masuk lift untuk makan siang, kami sama-sama berdiri di tengah-tengah lift pas di lantai 27 banyak orang yang masuk lift, aku di dorong ke pojok belakang sedangkan ibu-ibu hamil itu di lindungi sama ibu-ibu yang baru masuk di lantai 27 itu mereka bilang ke temennya “hati-hati ada ibu hamil nih, jangan di dorong” jadilah mereka mepet ke bagian pojok (FYI, ibu hamil yang itu badannya besar dan gendut terlihat sangat hamil. Usia kandungan kami Cuma beda 2minggu). Aku coba buat mengerti ketidaktahuan mereka tapi tetep aja ini bikin sedih. Sikap dan nyinyiran itu bikin drama banget, nangis setiap pulang kerja di punggung suami (ini nangis di jalan pulang, kita pulang naik motor btw), bikin mood berantakan, jadi mikir yang negatif. Tapi dari situ aku belajar satu hal, kalau aku tidak boleh membanding-bandingkan kehamilan seseorang dengan orang lain apalagi diri aku sendiri. Setiap ibu hamil itu berbeda. Dan samapi sekarangpun aku selalu berusaha mengingatkan diriku sendiri untuk tidak mengomentari tentang kehamilan seseorang. Tidak menyamakan kehamilanku dengan kehamilan mereka. Berbahagialah ibu-ibu hamil diluar sana apapun dan bagaimanapun kondisinya. Semoga sehat dan lancar sampai melahirkan. xoxo

Semoga ada orang lain diluar sana yang senasib denganku *nyari temen🙂

gateway (?)

Pernah baca di salah satu blog seorang ibu hebat (lupa nama nya), katanya seorang ibu untuk mengurangi tingkat stress dan berbagai macam tekanan salah satunya yaitu bisa dengan menulis. And here I am. Mencoba mengurangi segala macam tekanan dan stress yang sebenernya ga terlalu berat. Enjoy🙂

 

Masyarakat Multikultural

Masyarakat Multikultural

Di dunia global saat ini, banyak kita temukan kota-kota di sekitar kita dan daerah perkotaan yang jauh lebih besar merupakan gambaran yang nyata dan benar atas fenomena abad ke-21 di mana masyarakat multicultural adalah suatu hal yang jamak dan biasa. Kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Medan, Makasar, Surabaya, dan Yogyakarta adalah wajah global Indonesia karena masyarakat dari seluruh wilayah Indonesia pasati ada yang tinggal di kota-kota besar tersebut. Di dunia yang lebih luas atau dalam skala internasional, kota-kota besar seperti Amsterdam, Berlin, London, Moskow, New York, Shanghai dan Singapura adalah wajah dari masyarakat global yang lebih luas dan lebih besar. Bagaimana persepsi Anda pada masyarakat multi kulturan tersebut dalam beberapa dekade berikutnya?

Orang pergi merantau keluar dari daerahnya pasti untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia di mana penduduk daerah pergi ke Jakarta untuk mencari kehidupan yang lebih baik tetapi juga lebih dahulu terjadi di Amerika pada abad ke-19 dan ke-20. Di Eropa proses perpindahan penduduk seperti ini juga terjadi tetapi juga pada skala lokal dalam negara. Biasanya merupakan pusat kota atau ibukota negara. Proses perpindahan penduduk ini telah membentuk persepsi bahwa masyarakat multi budaya akan terbentuk di kota seperti Jakarta atau kota-kota besar lainnya di dunia. New York adalah contoh yang baik, di mana sebagian besar migran beralkuturasi, mengadopsi budaya tetapi dalam bentuk budaya yang mandiri dan khas serta secara khusus membentuk kebudayaan mereka atau disebut sebagai “Multi-budaya”.

Pada abad ke-21 ini banyak kota kota di dunia yang telah menjadi berkembang dan masyarakatnya menjadi multi budaya karena hampir semua laar belakang masyarkatnya berbeda dan mau tidak mau mereka berkembang bersama dan budaya mereka pun akhirnya berpadu dan membentuk budaya multikiultural yang khas. Akan tetapi tetap saja ada perkecualaian di mana tidak semua latar belakang bisa berpadu. Kita bisa jumpai di mana pun pasti ada sebagian migrant yang lebih memilih untuk hidup dalam komunitas mereka sendiri, dan sering membawa kebiasaan mereka sendiri dengan cara mereka sendiri. Masyarakat multikultural terbentuk karena beberapa aspek. Yang sering terjadi adalah penerimaan bahasa lokal dan pernikahan antara anggota dua budaya yang berbeda yang merupakan dua unsur penting dari masyarakat multikultural. Penggabungan dari makanan yang kita makan, dan pakaian yang kita kenakan juga merupakan faktor pendukung terbentuknya masyrakat multikultural. Akan tetapi ada pertanyaan bagaimana bisa mesyarakat multicultural terbentuk jika pendatang baru dan orang-orang lokal hidup terpisah satu sama lain. Masyarakat multikultural bisa terbentuk tanpa sentuhan langsung. Melalui transaksi dan perpaduan kepentingan, masyarakat multicultural bisa terbentuk.

Dampak dari masyarkat multikultural telah membuat banyak orang sukses dan berhasil karena mereka telah benar-benar memeluk ide masyarakat global. Berbagai kejutan dari para pemimpin bisnis dan politik yang menikah dengan mitra dari negara yang berbeda, berbicara beberapa bahasa, dan mobilitas lintas negara telah membentuk suatu masyarakat multikultural yang dinamis. Orang-orang dengan pandangan sempit sering berpikir dengan pola mono-budaya, dan lebih memilih untuk tinggal di komunitas mereka sendiri. Percayalah ini akan membuatnya gagal menerima hal baru dari budaya lainnya. Kenyataan ini hal ini bisa menjadi batas antara masyarakat yang berhasil dan masyarakat yang gagal karena tidak memeiliki keterbukaan atas perubaan yang terjadi sementara dunia berkembang secara dinamis. Jika kita tidak bis amengikutinya maka kita akan jalan di tempat.

Masyarakat multikultural yang bekerja dalam masyarkat global akan lebih terbuka dan permisif dalam menerima budaya baru. Hal ini sesuai dengan masyarakat abad ke-21 yang juga memiliki cita-cita ini. Sehingga tidak mengejutkan jika masyarakat mulikultural mudah terbentuk pada masyarakat kota-kota besar yang masing-masing memiliki latar belakang budaya yang berbeda. Ke depan kota-kota yang berkembang semakin pesat akan mengalami hal yang sama karena kota yang berkembang akan mengundang orang untuk datang dan menetap dan akhirnya mereka bisa berakulturasi membentuk masyarakat multikultural.

 

 

original artikel : http://9triliun.com/artikel/1175/masyarakat-multikultural.html

PENGERTIAN POLITIK

POLITIK

Politik berasal dari bahasa Belanda politiek dan bahasa Inggris politics, yang masing-masing bersumber dari bahasa Yunani τα πολιτικά (politika – yang berhubungan dengan negara) dengan akar katanya πολίτης (polites – warga negara) dan πόλις (polis – negara kota).

Secara etimologi kata “politik” masih berhubungan dengan polisi, kebijakan. Kata “politis” berarti hal-hal yang berhubungan dengan politik. Kata “politisi” berarti orang-orang yang menekuni hal politik.

Politik adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara.[1] Pengertian ini merupakan upaya penggabungan antara berbagai definisi yang berbeda mengenai hakikat politik yang dikenal dalam ilmu politik.

Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional.

Di samping itu politik juga dapat ditilik dari sudut pandang berbeda, yaitu antara lain:

–          politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama (teori klasik Aristoteles)

–          politik adalah hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan Negara

–          politik merupakan kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat

–          politik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik.

Dalam konteks memahami politik perlu dipahami beberapa kunci, antara lain: kekuasaan politik, legitimasi, sistem politik, perilaku politik, partisipasi politik, proses politik, dan juga tidak kalah pentingnya untuk mengetahui seluk beluk tentang partai politik.

Teori politik

Teori politik merupakan kajian mengenai konsep penentuan tujuan politik, bagaimana mencapai tujuan tersebut serta segala konsekuensinya. Bahasan dalam Teori Politik antara lain adalah filsafat politik, konsep tentang sistem politik, negara, masyarakat, kedaulatan, kekuasaan, legitimasi, lembaga negara, perubahan sosial, pembangunan politik, perbandingan politik, dsb.

Terdapat banyak sekali sistem politik yang dikembangkan oleh negara negara di dunia antara lain: anarkisme,autoritarian, demokrasi, diktatorisme, fasisme, federalisme, feminisme, fundamentalisme keagamaan, globalisme, imperialisme, kapitalisme, komunisme, liberalisme, libertarianisme, marxisme, meritokrasi, monarki, nasionalisme, rasisme, sosialisme, theokrasi, totaliterisme, oligarki dsb.

Perilaku Politik

Perilaku politik atau (Inggris:Politic Behaviour)adalah perilaku yang dilakukan oleh insan/individu atau kelompok guna memenuhi hak dan kewajibannya sebagai insan politik.Seorang individu/kelompok diwajibkan oleh negara untuk melakukan hak dan kewajibannya guna melakukan perilaku politik adapun yang dimaksud dengan perilaku politik contohnya adalah:

–          Melakukan pemilihan untuk memilih wakil rakyat / pemimpin

–          Mengikuti dan berhak menjadi insan politik yang mengikuti suatu partai politik atau parpol , mengikuti ormas atau organisasi masyarakat atau lsm lembaga swadaya masyarakat.

–          Ikut serta dalam pesta politik

–          Ikut mengkritik atau menurunkan para pelaku politik yang berotoritas

–          Berhak untuk menjadi pimpinan politik

–          Berkewajiban untuk melakukan hak dan kewajibannya sebagai insan politik guna melakukan perilaku politik yang telah disusun secara baik oleh undang-undang dasar dan perundangan hukum yang berlaku.

Masalah Utama Negara dan Pengertian Politik

Masalah utama dari negara yang sedang menuju demokrasi yang seutuhnya seperti Indonesia terdapat masalah di pelembagaan demokrasi. Dimana menjadikan setiap orang yang mengambil keputusan untuk atau atas nama seluruh rakyat banyak bisa berjalan sesuai dengan kadiah dan norma norma demokrasi yang ada tanpa menyimpang dan jika ada kedudukan pasti bagi setiap orang (seperti anggota Dewan Perwakilan Rakyat ) yang menyebabkan orang melakukan segala cara untuk mendapat kedudukan tersebut demi kepentingan diri sendiri tentu saja itu harus dibuang dan harus membangun semangat nasionalisme demi kepentingan kemajuan bangsa itus endiri. Diharapkan lembaga politik menjadi lembaga yang terbuka bagi setiap orang dan dapat mencerminkan setiap kepentingan rakyat banyak dapat terpenuhi dan dapat mendapatkan kesejahteraan yang sesungguhnya tanpa terdapat persoalan kepentingan diri sendiri.

Demi terwujudnya lembaga demokrasi diperlukan hukum yang jelas dan sesuai serta perundang undangan yang selalu mendorong terbentuknya perilaku yang demokratis sampai jika bisa menjadi pandangan hidup seseorang. Selain itu untuk terbentuknya hubungan antar negara dibutuhkan yang dinamakan hubungan internasional. Dalam bentuk sesungguhnya hubungan internasional adalah hubungan antar setiap negara untuk mencakup semua interaksi seperti hubungan bilateral atau multitateral entah itu untuk hubungan perdagangan ataupun hubungan suatu lobi politik. Prakteknya hubungan internasional rata rata diperankan oleh diplomat duta besar masing masing negara selain tentara. Sedangkan semakin majunya perkembangan zaman , banyak perusahaan yang ataupun perusahaan internasional yang bisa berperan penting di politik internasional.

Meskipun di Indonesia ketika masyarakat mendengar kata politik maka yang akan terlintas di pikiran adalah kotor maupun korupsi yang terjadi di dalam politik Sesungguhnya politik sangat dibutuhkan oleh setiap orang untuk bersosialisasi bersama orang lain, oleh karena itu pemerintah harus bisa merupakan pikiran masyarakat tentang politik itu sendiri.

source : http://id.wikipedia.org/wiki/Politik

http://9triliun.com/artikel/866/pengertian-politik.html

Pengertian Sosiologi

Sosiologi berasal dari bahasa Latin yaitu Socius yang berarti kawan, teman sedangkan Logos berarti ilmu pengetahuan. Ungkapan ini dipublikasikan diungkapkan pertama kalinya dalam buku yang berjudul “Cours De Philosophie Positive” karangan August Comte (1798-1857). Walaupun banyak definisi tentang sosiologi namun umumnya sosiologi dikenal sebagai ilmu pengetahuan tentang masyarakat.

Masyarakat adalah sekelompok individu yang mempunyai hubungan, memiliki kepentingan bersama, dan memiliki budaya. Sosiologi hendak mempelajari masyarakat, perilaku masyarakat, dan perilaku sosial manusia dengan mengamati perilaku kelompok yang dibangunnya. Sebagai sebuah ilmu, sosiologi merupakan pengetahuan kemasyarakatan yang tersusun dari hasil-hasil pemikiran ilmiah dan dapat di kontrol secara kritis oleh orang lain atau umum.

Kelompok tersebut mencakup keluarga, suku, negara,  dan berbagaiorganisasi politik, sosial dan ekonomi.

Pokok bahasan sosiologi ada empat:

1. Fakta Sosial sebagai cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang berada di luar individu dan mempunyai kekuatan memaksa dan mengendalikan individu tersebut.

Contoh, di sekolah seorang murid diwajibkan untuk datang tepat waktu, menggunakan seragam, dan bersikap hormat kepada guru.Kewajiban-kewajiban tersebut dituangkan ke dalam sebuah aturan dan memiliki sanksi tertentu jika dilanggar. Dari contoh tersebut bisa dilihat adanya cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang ada di luar individu (sekolah), yang bersifat memaksa dan mengendalikan individu (murid).

2. Tindakan Sosial, sebagai tindakan yang dilakukan dengan mempertimbangkan perilaku orang lain.

Contoh, menanam bunga untuk kesenangan pribadi bukan merupakan tindakan sosial, tetapi menanam bunga untuk diikutsertakan dalam sebuah lomba sehingga mendapat perhatian orang lain, merupakan tindakan sosial.

3. Khayalan Sosiologis, sebagai cara untuk memahami apa yang terjadi di masyarakat maupun yang ada dalam diri manusia. Menurut Wright Mills, dengan khayalan sosiologi, kita mampu memahami sejarah masyarakat, riwayat hidup pribadi, dan hubungan antara keduanya. Alat untuk melakukan khayalan sosiologis adalah permasalahan (troubles) dan isu (issues). Permasalahan pribadi individu merupakan ancaman terhadap nilai-nilai pribadi. Isu merupakan hal yang ada di luar jangkauan kehidupan pribadi individu.

Contoh, jika suatu daerah hanya memiliki satu orang yang menganggur, maka pengangguran itu adalah masalah. Masalah individual ini pemecahannya bisa lewat peningkatan keterampilan pribadi. Sementara jika di kota tersebut ada 12 juta penduduk yang menganggur dari 18 juta jiwa yang ada, maka pengangguran tersebut merupakan isu, yang pemecahannya menuntut kajian lebih luas lagi.

4. Realita Sosial adalah pengungkapan tabir menjadi suatu realitas yang tidak terduga oleh sosiolog dengan mengikuti aturan-aturan ilmiah dan melakukan pembuktian secara ilmiah dan objektif dengan pengendalian prasangka pribadi, dan pengamatan tabir secara jeli serta menghindari penilaian normatif.

Sosiologi merupakan salah satu bidang ilmu sosial yang mempelajari masyarakat. Sosiologi sebagai ilmu telah memenuhi semua unsur ilmu pengetahuan. Menurut Harry M. Johnson, yang dikutip oleh Soerjono Soekanto, sosiologi sebagai ilmu mempunyai ciri-ciri, sebagai berikut.

  • Empiris, yaitu didasarkan pada observasi (pengamatan) dan akal sehat yang hasilnya tidak bersifat spekulasi (menduga-duga).
  • Teoritis, yaitu selalu berusaha menyusun abstraksi dari hasil observasi yang konkret di lapangan, dan abstraksi tersebut merupakan kerangka dari unsur-unsur yang tersusun secara logis dan bertujuan menjalankan hubungan sebab akibat sehingga menjadi teori.
  • Komulatif, yaitu disusun atas dasar teori-teori yang sudah ada, kemudian diperbaiki, diperluas sehingga memperkuat teori-teori yang lama.
  • Nonetis, yaitu pembahasan suatu masalah tidak mempersoalkan baik atau buruk masalah tersebut, tetapi lebih bertujuan untuk menjelaskan masalah tersebut secara mendalam.

Hakikat sosiologi sebagai ilmu pengetahuan sebagai berikut.

  • Sosiologi adalah ilmu sosial, bukan ilmu pengetahuan alam atau ilmu pasti (eksakta) karena yang dipelajari adalah gejala-gejala kemasyarakatan.
  • Sosiologi termasuk disiplin ilmu kategori, bukan merupakan disiplin ilmu normatif karena sosiologi membatasi diri pada apa yang terjadi, bukan apa yang seharusnya terjadi.
  • Sosiologi termasuk ilmu pengetahuan murni (pure science) dan dalam perkembangannya sosiologi menjadi ilmu pengetahuan terapan (applied science).
  • Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan abstrak dan bukan ilmu pengetahuan konkret. Artinya yang menjadi perhatian adalah bentuk dan pola peristiwa dalam masyarakat secara menyeluruh, bukan hanya peristiwa itu sendiri.
  • Sosiologi bertujuan menghasilkan pengertian dan pola-pola umum, serta mencari prinsip-prinsip dan hukum-hukum umum dari interaksi manusia, sifat, hakikat, bentuk, isi, dan struktur masyarakat manusia.
  • Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang empiris dan rasional. Hal ini menyangkut metode yang digunakan.
  • Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan umum, artinya sosiologi mempunyai gejala-gejala umum yang ada pada interaksi antara manusia.

Adapun pengertian sosiologi menurut para ahli anatara lain :

  1. Pitirim Sorokin : sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial (misalnya gejala ekonomi, gejala keluarga, dan gejala moral), sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala non-sosial, dan yang terakhir, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial lain.
  2. Roucek dan Warren : sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok.
  3. William F. Ogburn dan Mayer F. Nimkopf : sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya, yaitu organisasi sosial.
  4. J.A.A Von Dorn dan C.J Lammers : sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil.
  5. Max Weber : Sosiologi adalah ilmu yang berupaya memahami tindakan-tindakan sosial.
  6. Selo Sumardjan dan Soelaeman Soemardi : Sosiologi adalah ilmu kemasyarakatan yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial termasuk perubahan sosial.
  7. Paul B. Horton : sosiologi adalah ilmu yang memusatkan penelaahan pada kehidupan kelompok dan produk kehidupan kelompok tersebut.
  8. Soejono Soekanto : sosiologi adalah ilmu yang memusatkan perhatian pada segi-segi kemasyarakatan yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapatkan pola-pola umum kehidupan masyarakat.
  9. William Kornblum : sosiologi adalah suatu upaya ilmiah untuk mempelajari masyarakat dan perilaku sosial anggotanya dan menjadikan masyarakat yang bersangkutan dalam berbagai kelompok dan kondisi.
  10. Allan Jhonson : sosiologi adalah ilmu yang mempelajari kehidupan dan perilaku, terutama dalam kaitannya dengan suatu sistem sosial dan bagaimana sistem tersebut memengaruhi orang dan bagaimana pula orang yang terlibat didalamnya memengaruhi sistem tersebut.

source : http://id.wikipedia.org/wiki/Sosiologi

http://id.wikipedia.org/wiki/Definisi_Sosiologi

PEMIMPIN BERKUALITAS BISA MERASA, BUKAN MERASA BISA

PEMIMPIN BERKUALITAS BISA MERASA, BUKAN MERASA BISA

Sofyan Badrie
Indonesia makin demokratis. Tapi kian berkualitaskah hasil demokrasinya? Para pemimpin Indonesia masih harus belajar banyak dari Nelson Mandela.
Saat ini Indonesia sedang menghadapi tantangan besar, apakah demokrasi dapat membawa bangsa ini pada kemajuan dan kejayaan, ataukah sebaliknya justru menjerumuskan pada pertikaian dan keterpurukan. Menurut Prof Din Syamsuddin, Ketua Umum PP Muhammadiyah, demokrasi sebenarnya hanya sebuah cara yang saat ini dianggap paling fair untuk melahirkan kepemimpinan.
”Tapi kita sering dihadapkan pada realitas proses demokrasi ternyata tak selalu melahirkan kepemimpinan yang baik dan memuaskan rakyat,” kata Bang Din, sapaan akrab mantan ketua Jurusan Perbandingan Agama Institut Islam Agama Islam (IAIN), kini Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu, kepada Qalam.
Din mengakui, demokrasi di Indonesia memang masih hanya sekedar sebuah prosedur. Sementara dari segi kualitas masih belum terlalu menjanjikan. Kepemimpinan yang dilahirkan proses demokrasinya masih tidak berkualitas, dan tidak menjamin lahirnya kepemimpinan ideal. Tapi, imbuh Din, kita tak boleh putus asa untuk mencobanya dengan penuh kesabaran. ”Sebab, kualitas demokrasi akan sangat ditentukan oleh seberapa besar kedewasaan masyarakat yang terlibat,” tegasnya.
Oleh karena itu, pengasuh Pengajian Orbit ini menegaskan, umat Islam Indonesia wajib mengawal demokrasi agar semakin dewasa dan berkualitas. Sebab, dalam Islam kepemimpinan merupakan tindakan fardlu khifâyah yang harus diupayakan. Bahkan, jika ada dua orang Muslim bepergian, diwajibkan untuk menentukan dari salah satu di antara keduanya sebagai pemimpin. Dan menjadi salah, jika umat Islam tak peduli atau lari dari tanggungjawab kepemimpinan. Tapi, jangan pula mereka terjebak dalam motivasi kepemimpinan yang salah.
Menurut Din, ada dua referensi yang dapat selalu kita jadikan rujukan dalam melihat motivasi kepemimpinan. Pertama, model Abu Dzar al-Ghifari yang oleh Rasulullah SAW ditolak ketika meminta jabatan. Karena Rasulullah tahu bahwa Abu Dzar tak akan mampu mengenban amanah itu. Kedua, model Nabi Yusuf AS yang menawarkan diri untuk menjadi bendaharawan negeri Mesir, karena menyadari kemampuan dirinya untuk menyelamatkan Mesir dari paceklik panjang dan kebangkrutan (krisis multidimensi).
Dari sini jelaslah, motivasi kepemimpinan harus selalu dikembangkan atas dasar “sikap bisa merasa”, bukan “sekedar merasa bisa”. Oleh karena itu, siapa saja anak bangsa yang ingin tampil dalam kepemimpinan nasional, di manapun dan apapun levelnya, harus menyadari bahwa memimpin adalah untuk berkhidmat demi umat dan rakyat. Sebab, kepemimpinan adalah amanah yang harus dijalankan dengan baik. Dan Allah SWT akan meminta pertanggungjawabannya.
Jangan Modal Ambisi
Sementara menurut Faturochman, peneliti Puslit Kependudukan UGM Yogyakarta, menjadi pemimpin tidaklah mudah. Dan lebih sulit lagi untuk menjadi pemimpin yang baik. ”Sayangnya, banyak orang tidak menyadari bahwa mereka tidak layak menjadi seorang pemimpin. Ambisi besar malah sering menjadi modal satu-satunya,” ujar dosen Fakultas Psikologi UGM ini.
Pemimpin yang demikian tentu akan menggunakan cara-cara kurang terpuji guna mencapai puncak tujuan. Ia akan sulit menjadi teladan yang baik. Karena, melalui jalur legal dan benar saja belum menjadi jaminan untuk bisa menjadi teladan. Terlebih sebagai pemimpin, setiap saat ia akan disorot dan diuji untuk menjadi teladan. Sebalik cacat saja akan mengakibatkan banyak reaksi negatif mengalir kepadanya.
”Keteladanan seorang pemimpin bisa dipahami dengan konsep belajar sosial yang banyak dibahas dalam psikologi,” papar Faturochman. Menurut konsep belajar sosial, untuk menjadi teladan, pemimpin harus benar-benar bisa menjadi pusat perhatian yang positif dan menarik. Perhatian masyarakat terhadap pemimpinnya, akan banyak menimbulkan proses psikologis masyarakat. Ucapan dan perilakunya akan banyak dijadikan referensi.
Bila kebijaksanaan-kebijaksanaan para pemimpin itu menguntungkan anggota masyarakat, itu menjadi reward untuk menguatkan anggapan dan perilaku yang terbentuk. Dengan demikian, keteladanan yang terbentuk akan menjadi sangat kuat terhadap masyarakat. Dan pemimpin yang mempunyai hubungan psikologis erat dengan anggota masyarakat, cenderung akan banyak mendapat toleransi bila sekalipun ia melakukan kekeliruan.
Lebih jauh Faturochman mengungkapkan, masyarakat yang meneladani pemimpin, berarti mereka mengidentikasi diri seperti para pemimpinnya. Menurut Herbert Kelman (1961), identifikasi diri merupakan puncak dari kompromi dan kepatuhan terhadap pemimpin. Bila anggota masyarakat telah mengidentifikasi (baca: meneladani) pemimpinnya, maka apapun yang dilakukan dan diinginkannya akan dituruti.
Namun untuk mencapai pada tingkat keteladanan yang tinggi, bukan hal yang mudah. Karena, untuk sekedar kompromi dan patuh kepada pemimpin, tak perlu sampai perlu meneladaninya. Seringkali, pemimpin hanya ingin anggota yang dipimpinnya mengikuti berbagai aturan yang ia buat. Dengan kata lain, ia hanya ingin anggota masyarakat patuh kepadanya.
Keadaan ini merupakan pola terentan dalam hubungan pemimpin dan yang dipimpin. Kepatuhan yang lemah ini, biasanya hanya digunakan untuk mendapatkan keuntungan dan menghindari sanksi. Bila tak ada sanksi, mereka akan berbuat seenaknya. Seperti pola hubungan ABS alias asal bapak senang. Di depan mereka patuh, namun di belakang mereka mencibir.
Boks
8 Pelajaran dari Nelson Mandela
Mendengar kata ”politikus”, banyak orang sontak mendadak mual. Yang terbayang adalah monster-monster yang merampok uang negara. Tak heran jika Nelson Mandela, mantan Presiden Afrika Selatan (Afesl), terlihat bagai seorang suci (santo) di dunia politik yang kotor. Ia mampu membawa Afsel yang apartheid menuju ranah demokrasi.
Banyak orang di dunia mengagungkan tokoh ini. Lantas, apa rahasia kepemimpinannya? Wawancara terbaru Mandela dengan Majalah TIME mengungkap delapan prinsip kepemimpinannya yang patut ditiru semua pemimpin di dunia ini.
1. Courage is not the absence of fear, it’s inspiring others to move beyond it. Mandela kerap kali merasa gentar, tapi menurutnya itu wajar dialami seorang pemimpin. Tapi, ia tidak ingin menunjukkan rasa takut itu di hadapan orang lain. Keberanian yang ia tampilkan, meski kadang hanya pura-pura, mampu menenangkan kekhawatiran dan menyemangati orang di saat-saat sulit.
2. Lead from the front, but don’t leave your base behind. Ketika Mandela memutuskan untuk memulai dialog dengan Pemerintah apartheid, teman-temannya mengira ia sudah “menjual diri”. Padahal Mandela dengan sabar membujuk mereka pelan-pelan.
3. Lead from the back, and let others believe they are in front. Tugas seorang pemimpin, bukan untuk menyuruh-nyuruh orang lain, tapi untuk menciptakan sebuah kesepakatan. Dalam rapat-rapat, Mandela biasanya mendengarkan pendapat teman-temannya terlebih dahulu. Ketika tiba giliran, ia akan merangkum semua pendapat itu, baru mengutarakan pendapatnya sendiri, dan pelan-pelan mengarahkan hasil diskusi tanpa nada memaksa atau memerintah.
4. Know your enemy, and learn about his favorite sport. Di awal perjuangannya, Mandela bersikeras belajar bahasa Afrikaan, bahasa orang kulit putih Afrika Selatan, dus sejarah kolonialisasi mereka. Ia bahkan berusaha mendalami rugby, olahraga favorit mereka. Wal hasil, ia dihormati lawan, mulai dari sipir penjara, hingga P.W. Botha (Presiden kulit putih Afsel di masa apartheid). Dialog dengan mereka juga menjadi lancar.
5. Keep your friends close, and your rivals even closer. Orang-orang dekat Mandela tak selalu orang yang ia sukai. Tak jarang mereka justru rival, atau orang-orang yang digosipkan berusaha menggulingkannya. Tapi Mandela percaya, dekat dengan rival adalah satu cara untuk mengendalikan mereka.
6. Appearances matter, and remember to smile. Mandela percata, apa yang tampak di luar sama pentingnya dengan apa yang ada di dalam diri. Karenanya ia benar-benar menggunakan penampilan fisik untuk membantu perjuangannya.
7. Nothing is black or white. Meski Mandela jelas-jelas menentang apartheid, ia juga sadar bahwa apartheid memiliki penyebab historis, sosiologis, dan psikologis yang kompleks. Karena itu, ia tak pernah terpaku pada satu jalan untuk memecahkan masalah. Ia adalah politikus yang pragmatis. Ia tak akan segan-segan mengubah ideologi atau taktik, seperti menghentikan perjuangan bersenjata, jika memang itu cara paling praktis untuk mencapai tujuan akhir.
8. Quitting is leading too. Berhenti menjabat bukan berarti berhenti memimpin. Jasa-jasa Mandela cukup signifikan untuk membuatnya menjadi presiden seumur hidup. Tapi dengan sukarela ia tak ingin dipilih lagi. Baginya, yang diikuti dari seorang pemimpin bukan hanya apa yang ia lakukan, tapi juga apa yang tidak ia lakukan.

Prinsip Etika Profesi Akuntansi : Kerahasiaan

Kelompok 6 Tugas Softskill  :

1. Cesar Syasmarushanda ( 21210532 )

2. Ade Mussopan  ( 20210118 )

3. Gotty

4. Winda Puji Hastuti

5. Ryant

Tahun Sebelumnya

Nomon 6 Kerahasiaan

Setiap anggota harus menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh selama melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan informasi tersebut tanpa persetujuan, kecuali bila ada hak atau kewajiban profesional atau hukum untuk mengungkapkannya.
Kepentingan umum dan profesi menuntut bahwa standar profesi yang berhubungan dengan kerahasiaan didefinisikan bahwa terdapat panduan mengenai sifat sifat dan luas kewajiban kerahasiaan serta mengenai berbagai keadaan di mana informasi yang diperoleh selama melakukan jasa profesional dapat atau perlu diungkapkan.
Anggota mempunyai kewajiban untuk menghormati kerahasiaan informasi tentang klien atau pemberi kerja yang diperoleh melalui jasa profesional yang diberikannya. Kewajiban kerahasiaan berlanjut bahkan setelah hubungan antar anggota dan klien atau pemberi jasa berakhir.

Tahun 2012 / Terbaru

Nomor 4 kerahasiaan

Kerahasiaan, Akuntan Profesional harus menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh sebagai hasil hubungan profesional dan hubungan bisnis dan tidak boleh mengungkapkan informasi apapun kepada pihak ketiga tanpa ada izin yang tepat dan spesifik kecuali terdapat hak dan professional untuk mengungkapkan.

ALASANNYA :

Prinsip kerahasiaan pada etika profesi akuntansi masih sangat dibutuhkan demi menjaga kerahasiaan informasi yang diperoleh dari klien. Apabila prinsip kerahasiaan ini dihapuskan pada prinsip etika profesi akuntansi dikhawatirkan terjadi tindakan yang tidak diinginakn / penyalahgunaan informasi yang sifatnya tidak boleh  diketahui oleh pihak eksternal kecuali ada persetujuan dari kliennya. Sehingga anggota harus tetap mematuhi pirnsip kerahasiaan ini di dalam etika profesi akuntansi .

SUMBER :

http://nelo-neloli.blogspot.com/2011/10/etika-profesi-akuntansi.html